Postingan

Jadi, kenapa?

Random Thought. _________________________________________________________________________________ Membaca buku adalah salah satu pekerjaan paling sulit yang saya tahu — dan itulah alasan kenapa banyak orang tidak suka membaca buku. Bagi saya, dibandingkan menonton film, saya lebih suka membaca bukunya dulu. Ada proses menyenangkan saat membayangkan tokoh-tokoh dalam buku itu seolah menjelma nyata dalam imajinasi kita. Maka dari itu banyak sekali orang yang kerap kecewa ketika menonton film layar lebar yang diangkat dari buku yang sudah mereka baca. Hanya saja, sayangnya tidak banyak dari kita yang mau merelakan sedikit waktu lebih lama untuk berproses. Kita cenderung lebih suka segala sesuatu yang cepat, singkat dan instan. Good thing takes time. Semacam itulah katanya kira-kira. Klasik, ya? Iya. Hingga saat saya menulis ini, definisi bahagia versi saya masih sama.. Bahagia adalah saat saya berhasil meraih cita-cita, mengerjakan hal-hal yang saya suka, tanpa h...

HIJAB; BEHIND THE SCENE

Gambar
pic source There is always a first time for everything.  Begitu, kan? Beberapa tahun lalu ketika saya akhirnya mengambil keputusan untuk menggunakan hijab rasanya butuh waktu dan pertimbangan yang matang, walaupun sebetulnya tidak perlu pertimbangan khusus pun bagi setiap wanita yang sudah baligh hukumnya wajib. Nah, biasanya sebelum memutuskan untuk berhijab, perempuan pasti harus mempersiapkan banyak hal, termasuk untuk urusan pakaian. Biasanya kita harus menyisihkan pakaian-pakaian lama yang tidak cocok dipadukan dengan hijab. Pemikiran semacam 'Wah sayang banget nanti dress lucu aku nggak bisa terpakai lagi kalau pakai hijab' atau 'Nanti baju lama banyak kebuang' dan aneka pemikiran dangkal lainnya kadang-kadang terbersit muncul dipikiran. Atau pikiran jeleknya lagi 'Pipi aku tambah tembem kalau pake jilbab' dan bla bla blaaa. Okay, that's me. Ha! Intinya sih segala sesuatu itu ujung-ujungnya kembali lagi perihal niat sih ya. Dulu ...

ALAM PUNYA CARANYA SENDIRI

Adalah seorang Bapak, yang berprofesi sebagai sebagai seorang pemulung, ditengah hujan deras saat saya berada di daerah Koba berjalan terhuyung sembari menggendong anak kecil yang mungkin usianya baru 3 tahun. Anak itu tertawa, sesekali menatap wajah Ayahnya terlihat nampak bahagia seolah diajak bermain air. Adalah seorang Bapak yang berprofesi sebagai pekerja bangunan salah satu rumah sakit terbesar di kota yang bercerita perihal rutinitas bulanannya mengirim uang untuk anak istrinya di ujung pulau Jawa sana, ditengah siang hari, dengan wajah berpeluh nan sumringah. Adalah seorang Ibu, yang juga berperan ganda sebagai seorang Bapak untuk keempat anaknya, yang pagi siang hingga malamnya dia gunakan untuk berjualan aneka makanan di pasar tempat saya membeli sayuran. Untuk biaya sekolah dan aneka kebutuhan lain, katanya. Adalah seorang Bapak, yang konon Saudagar kaya, berkisah soal suksesnya walau hanya tamatan sekolah dasar, mengobrol panjang di sebuah lahan pertanian miliknya d...

NIKMATNYA MAKAN BEDULANG IKAN GANGAN KHAS BELITONG

Gambar
“Ayo, dimakan ikannya, nggak usah malu ya kalau disini,”  Ujar Bude dengan bahasa Indonesia logat Melayu yang khas sambil menyodorkan semangkuk ikan dengan kuah kuning yang menggoda. Saya yang pada saat itu baru menginjakkan kaki di pulau Bangka dan baru mengenal Bude sekeluarga masih merasa kikuk berada dilingkungan baru. Sebagai perantau yang mendadak ‘ditampung’ dirumah orang yang bahkan hanya saya kenal dari temannya teman, Budhe dan keluarga keluarga sudah menjadi seperti rumah kedua buat saya diperantauan sekarang. “Eh, iya Bude, terima kasih” , ucap saya saat itu masih sungkan sembari mengambil sepotong kecil ikan yang tersaji. Hal yang kemudian saya sesali karena hanya mengambil potongan kecil :)) Pada suapan pertama saya dibuat berbinar-binar dengan rasa ikan ini. Enak banget, asli. Perpaduan rasa ikan dengan aroma kunyit yang kental, cabai rawit merah nan pedas, asam, serta potongan nanas muda menciptakan sensasi rasa segar, asam, gurih, dan pedas menggigit. Sajian...

ALTERNATIF

Gambar
Setelah menimbang beberapa opsi tempat yang ingin saya datangi selama cuti untuk sekedar mencari kesunyian, hal yang mungkin lebih kamu kenal sebagai liburan, piknik, pelesir atau apapun itu namanya. Tetapi bagaimanapun, manusia memang adalah makhluk yang aneh kan? Kebanyakan kita menghabiskan banyak uang berlibur untuk mencari ketenangan, tetapi pergi ke tempat-tempat ramai. Saya salah satu diantaranya. Pada suatu pagi yang dingin di kota Bandung pertengahan bulan Oktober, tidak seperti biasanya, saya terbangun karena suara alarm yang berisik dari handphone, di rumah. Adalah entah hobi atau kebiasaan, bukannya bergegas bangun lantas mengambil air wudhu untuk sholat subuh, hal pertama yang dilakukan -yang sepertinya sudah menjadi kebiasaan- adalah mengecek notifikasi handphone. Bad habit, actually. pic source: pinterest Bandung sedang kurang bersahabat menurut saya. Selain diguyur hujan hampir setiap harinya, macet dan banjir rasanya jadi sajian sehari-hari sekarang. Andai r...

RINDU PERJALANAN

Gambar
Source: Pinterest Ada sesuatu dari perjalanan yang membuat saya merasa terus jatuh cinta.  Lagi. ...dan lagi. Tidak dapat disebutkan secara jelas. Tapi, menikmati perasaan saat menatap jalanan, berlari santai atau berjalan kencang, mencoba hal-hal baru, atau sekedar berkelakar dengan penduduk lokal mungkin adalah beberapa hal yang dapat saya sebutkan serta paling dirindukan. Sudah hampir 10 tahun saya jatuh cinta dengan dunia tulis menulis. Sejak saya masih menggunakan seragam putih abu. Menjadi jurnalis sekolah ala kadarnya.  Saya punya rahasia besar, dulu, saya pernah bercita jadi travel journalist, profesi yang saya yakini adalah  salah satu profesi paling menyenangkan sedunia. Wara-wiri ke berbagai pelosok Nusantara bahkan aneka penjuru dunia. Berbagi kisah suka duka selama perjalanan. Dan aneka pengalaman yang hanya didapat dengan melakukan perjalanan. Selain perjalanan ke Yogyakarta bersama Sang Adik tersayang beberapa bulan lalu, Bali...

MENDADAK DI UJUNG GENTENG

Gambar
Saya bersorak sorai ketika dari kejauhan melihat birunya lautan, padahal notabene setiap saat dikelilingi pantai. Disusul kemudian kedua teman saya membuka kaca mobil. Sayup-sayup suara ombak pantai terdengar semakin jelas; kami berhenti di salah satu sisi pantai. Rasanya ingin berlarian ke tengah, bermain air seharian. Byur! Saat pertama masuk ke lokasi ini, seorang penjaga memberikan kami semacam peta lokasi yang berisi spot-spot pantai yang bisa dikunjungi disana. Holiday by accident, karena dari awal pergi kami sama sekali tidak ada niatan untuk berkunjung, apalagi saya yang pada saat perjalanan dari Jakarta Bandung baru mengetahui kalau lokasi nikahan teman itu ternyata berjarak kurang lebih 6 jam perjalanan dari Bandung, paling cepat. Semacam jreng-jreng-moment, mau dicancel sudah setengah jalan, mau dilanjut sudah pasti badan rasanya babak belur.